Kamis, 03 Maret 2016

Cerita Sex Bercinta Dengan Bu Miska

Orisex web dewasa yang berisikan "Cerita Sex Bercinta Dengan Bu Miska" cerita sex 2016, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa terbaru dan foto bugil tante bispak abg hot.

Cerita Sex Bercinta Dengan Bu Miska - Ist

Cerita Dewasa Terbaru | Setelah menyelesaikan S1 di kota B, saya (sebut saja Teddy) studi lanjut di LN atas biaya perusahaan. Dari sana segera ditempatkan di kota S, dimana saya pernah tinggal saat menyelesaikan SMP dan SMAku dulu. Perusahaan dimana aku bekerja memiliki jaringan dan mitra kerja, baik pemerintah maupun swasta. Di kota S ini kami mendapat proyek di sebuah perusahaan besar yang memakai jasa kami.

Semula kami menawarkan di kantor pusat, akhirnya merambah ke kantor cabang-cabangnya, termasuk di kota S ini. Pertama kali saya masuk suatu kantor cabang rekanan ditemui oleh pimpinannya, seorang wanita berjilbab bernama Bu Miska. Saya senang pertemuan saat itu, bukan saja karena kecantikkannya, tapi wanita pimpinan itu, dulu pernah menjadi tetangga saya di kota ini, sehingga saya pikir urusan akan menjadi lebih lancar. Itu harapanku, walaupun kami harus tetap profesional.
Cerita Sex Bercinta Dengan Bu Miska
Namun ibarat pepatah mengatakan: ”jauh panggang dari api”. Kenyataan tidak sesuai dengan harapanku, meyakinkan bu Miska ternyata tidaklah mudah.

Rupanya dia belum dapat informasi dari kantor pusat.

“Aku tahu kamu dulu pernah numpang di depan rumah, tapi tidak ada hubungannya dengan penawaranmu ini” katanya ketika saya memperkenalkan diri.

Dan katanya lagi:

“Aku nggak begitu yakin dengan programmu itu; kalau diterapkan di kantorku. Perusahaan kamu kelihatan belum terkenal. Mana mungkin itu bisa dilakukan?” dan seterusnya.
“Ya Bu, saya berani menjamin, kita perkenalkan produk dulu” kemudian aku menerangkan secara detail program ini.

Padahal di kantor pusatnya program ini sudah diterapkan dan berjalan satu semester ini, mungkin dia belum tahu informasinya. Temanku menjadi jengkel setelah keluar dari ruangannya.

“Cantik tapi sombong ya Ted.., saya kira dia belum tahu kantor pusatnya pakai progam ini. Bener-bener telmi…”
“Jangan khawatir Bro, ini tantangan. Kita harus membuktikan, bahwa kata-katanya tidak benar.” kataku menghibur.
Cerita Dewasa Terbru Bercinta Dengan Bu Miska
Sore harinya di rumah, saya melayang dengan ingatanku, sampai pada sebelas tahun yang lalu; ketika itu saya baru kelas satu SMP bertempat di rumah tante saya dan rumah bu Miska berada persis di depan rumah tante saya itu. Di lingkungan perumahan, perempuan karier ini sering disapa bu Reza, sesuai nama suaminya. Keluarga pak Reza ini merupakan keluarga muda waktu itu.

 Dulu saya sering main bola di jalan depan rumahnya bersama teman-teman sebaya, maklum lapangan tempat bermain makin berkurang. Pernah saya dipelototi wanita itu, gara-gara bola yang ditendang teman saya mengenai mobilnya yang diparkir di depan rumahnya sampai alarmnya meraung-raung. Dikira saya yang nendang, lalu saya yang diplototin.

Tidak masalah orang saya juga rombongan pemain bola tersebut, sehingga wajar dimarahi. Jujur saja, sebenarnya perempuan ini elok parasnya, saat melotot tetap cantik, suaminya juga tampan. Kecantikannya cukup dominan bila dibanding dengan ibu-ibu lainnya perumahan itu. Setelah menyelesaikan SMA dan kuliah, saya sudah tidak lagi bertempat di rumah tante, sehingga kami tidak tahu perkembangan warga perumahan tersebut.

Dan sekarang dia bukan bu Reza lagi, karena telah berpisah dengan suaminya. Menurut kabar yang patut dipercaya, konon pak Reza menghamili bawahannya. Setelah ketahuan, lelaki itu beralasan; setelah menikah 10 tahun, istrinya tidak bisa memberi keturunan. Semula pak Reza tidak mau berpisah dengan bu Miska, tapi istrinya bersikukuh, enggak mau dimadu, mungkin sakit hati. Sejak berpisah dengan suaminya, dia tidak lagi menempati rumah itu. Demikian lamunanku melayang di benakku.
Cerita Sex Terbaru Bercinta Dengan Bu Miska
Beberapa hari kemudian, setelah melewati jalan terjal dan alot akhirnya bisa menerima, karena staf dari pusat mereka, ikut menerangkan. Bahkan sesaat sebelum acara presentasi, staf pusat tersebut memperkenalkan saya dengan audensi, katanya:

“Kalau ada kendala Pak Teddy siap membantu, ini jaminannya termasuk maintenance-nya. Institusi beliau bertanggungjawab, saya kira pengalamannya studi di negeri Sakura tidak akan dipakai sendiri… bla…bla…bla…” selorohnya. Saya senang agak tersanjung walau kikuk juga.

Aku melirik bu Miska.

Sejak saat itu air muka bu Miska berubah dan menjadi merendah dengan saya, yang semula meremehkan bahkan cenderung melecehkan kemampuan kami.

“Maaf ya Ted, saya harus begitu untuk kredibilitas instansi kami. Kalau kamu bilang dulu-dulu, bahwa kantor pusat pakai program itu, tentu kan tidak ada kesan saya mempersulit ” katanya membela diri ketika makan siang bareng.
“Ya, nggak apa-apa Bu, terima kasih atas kepercayaannya, maaf saya tidak memberi tahu Ibu lebih dulu”

Di awal pertemuan yang tidak sengaja dan menyakitkan itu, akhirnya justru tumbuh menjadi sebuah jalinan pertemanan yang akrab. Di samping jalinan kerjasama antara perusahaan tempat aku bekerja dengan instansi bu Miska. Sering saya diajak diskusi, bahkan sampai diminta pendapat masalah pribadinya, mungkin karena dia merasa saya pernah jadi tetangganya. Bagi saya senang.

Siapa yang tidak senang bersanding dengan perempuan cantik, berkulit putih bersih, walau hanyaterlihat pada wajah dan pergelangan dan jari-jemari tangannya, tingginya kira-kira 165 cm dan bentuk pinggulnya indah sekali. Kelihatannya tidak ada yang kurang dari penampilan janda berumur 36 tahun tanpa anak itu.

Dalam perjalanan waktu, di sisi lain saya bertemu dan kemudian berpacaran serius dengan seorang gadis bernama Dita. Dia masih kuliah semester satu di sebuah perguruan tinggi.Anaknya cantik, perawakannya tinggi semampai (168an) dan kuning langsat, tapi belum nampak matang dan dewasa. Sebenarnya aku lebih tertarik dengan wanita dewasa, matang kepribadiannya dan cerdas, seperti bu Miskamisalnya.Tapi saya juga jatuh cinta berat dengan Dita, pendiam tapi tegas, faktor usianya saja yang menjadikan dia belum tampak dewasa. Usianya baru 18 tahun, 9 tahun lebih muda dari saya. Dalam pacaran biasa kami berciuman saja.
Cerita Mesum Bercinta Dengan Bu Miska
Hingga pada suatu saat, ketika jalan-jalan di mall sendirian, saya bertemu dengan bu Miskadan Dita. Apa hubungannya dua perempuan ini? Pertanyaanku membuncah dalam hati, aku pandangi bergantian dua perempuan yang tingginya hampir sama itu. Ternyata Dita adalah keponakan dan sekaligus anak angkat bu Miska. Dalam hati aku senang sekali, calon mertua sudah kenal baik dengan aku.

Tapi apa dikata? Ketika bu Miskatahu aku pacaran dengan anak angkatnya itu, lagi-lagi dia yang menghalanginya, dengan alasan Dita masih sekolah, biar dia concern dengan studinya. Bahkan suaranya agak meninggi

“Don’t disturb she!” katanya di hari berikutnya kepadaku di kantornya, walau tidak seketus dulu.

Ditapun katanya sempat dimarahi gara-gara pacaran denganku. Pantesan ketika saya ingin main ke rumahnya, Dita selalu menolak.

Sekeras apapun hati bu Miska akhirnya luluh juga, akhirnya dia memperbolehkan aku pacaran dengan Dita, walaupun tidak secara langsung. Hal itu terlihat ketika saya diajak keluar kota bertiga, walaupun dia mungkin ingin memanfaatkan jasaku untuk menyopir mobilnya. Dan saya diberi kesempatan berkomunikasi, bahkan ketika aku ke rumahnya, ditanggapi dengan baik. Ini yang saya anggap merestui. Tapi anehnya lagi, saya lebih sering diajak ngobrol ngalor-ngidul dengan bu Miska.

Pada suatu pekan, bu Miska mengikuti suatu pendidikan di luar kota, di sebuah kawasan wisata sejuk yang memang sering digunakan instansi-instansi untuk meeting, in house training dan semacamnya. Selama sepekan, Senin sampai Jumat.

Jarak kawasan itu dari kota S kira-kira 130 km. Menunggu sepekan rasanya setahun, pikirku. Kalau saya rasakan aku ini cukup aneh, pacarku Dita, tapi rinduku kepada mamanya. Dari pihak bu Miska sendiri, juga sering telepon saya ngobrol sampai berjam-jam. Memang unik!

“Kamu jaga Dita ya…Ted..” kata bu Miska ketika mau berangkat.
“Ya Bu, beres..nggak saya apa-apakan” sambil melirik Dita
“Awas kau!” katanya setengah bercanda, Dita hanya senyum-senyum malu.

Hari Kamis sore saya nekad menyusul bu Miska, Jumatnya saya ambil cuti, Sabtu libur. Sampai di kawasan wisata, sekitar pukul delapan malam. Saya langsung menuju hotel yang pernah diinformasikan oleh bu Miska.

Dia tidak menginap di hotel tempat meeting karena sudah penuh, tetapi di hotel lain yang jaraknya sekitar dua ratus meteran dari tempat pertemuan. Setelah mobil kuparkir, aku minta informasi kamar yang dihuni sohibku ini. Saya melewati koridor hotel, menuju bangunan bagian tengah hotel agak naik ke atas, karena lokasinya perbukitan. Dadaku bergetar sampai di depan pintu kamar D216, saya ketuk beberapa kali.

Baru dibuka setelah saya sms

“aku di depan pintu”.
“Halloooo” kataku
“Kamu Ted….?! Ngapain kamu kesini…?!” sapanya dengan terkejut, sambil tersenyum penuh arti. Aku hanya tersenyum.

Malam itu ia sudah memakai gaun tidur katun dengan dominasi warna putih motif bunga. Serasidengan warna kulitnya yang putih bersih. Sangat seksi, karena sehari-hari yang kujumpai sering pakai uniform berjilbab. Dari ekpresi gerak dan wajahnya masih merasa surprise dan kekagetannya;

“Mengapa kamu harus menyusul??” katanya perempuan yang ternyata rambutnya sebahu itu.
“Ngapain Ted, kamu kesini…?Kayak anak kecil saja, yang kangen mamanya…..” katanya selalu diulang-ulang, entah sampai berapa kali?
“Memang kayak anak kecil..kok” jawabku

Tapi dia tidak menunjukkan kekesalannya terhadapku, hanya surprise saja dan tidak marah karena terlihat selalu diiringi senyuman sambil sesekali menyibakkan rambutnya ke belakang yang kadang menutup wajahnya.

Dia duduk di pinggir tempat tidur sementara saya duduk di kursi. Seperti biasanya kami berdua ngobrol. Kami berdua bicara tidak kaku, cair begitu saja. Pingin rasanya mencium pipinya yang ranum dan menggairahkan itu, bahkan ingin rasanya memeluk tubuh indahnya itu. Berpikir begitu, langsung jantung berdetak kencang, membayangkan sesuatu yang indah.Tapi itu tak kulakukan.

Setelah mandi, saya makan keluar hotel, tapi bu Miska tidak ikut, karena takut ketahuan sesama peserta diklat, tidak enak, lagipula dia sudah makan malam itu. Setelah keluar makan, saya kembali ke kamar. Malam itu pukul 22.00, rasa dingin menyusup ke seluruh tubuh, kembali kami bercengkerama, dia tiduran di tempat tidur sementara saya duduk di kursi sebelahnya.

“Kamu pesan kamar mana, Ted?” katanya
“Saya tidak pesan kamar, Bu…”
“Tapi di sini bednya hanya satu lho…”
“Enggak apa-apa, saya tidur di kursi saja.”

Aku sengaja tidak pesan kamar, tapi aku ingin tidur di kamar ini walau di kursi. Sebenarnya bednya cukup untuk tidur dua orang, tapi aku juga tidak minta tidur di situ, walau dalam hati sangat mengharapkan. Namun aku tetap senang, ternyata dia tidak mengusir saya atau memaksa untuk mencari kamar lain. Walaupun rasanya dingin dan lelah, ingin tidur tapi aku bertahan untuk tidak tidur di bed. Suasana kamar benar-benar menggetarkan sisi-sisi jantungku, lampu redup temaram.

Selang sekitar setengah jam, dia membuka matanya dan mendapatiku masih duduk sambil kepalaku kutaruh di meja.

“Ted… kamu boleh tidur di sini, tapi jangan macam-macam ya…,ntar saya ikat tanganmu…”
“Ya Bu…” seketika itu dadaku bergetar hebat, hatiku bersorak-sorai, senang sekali.

Padahal tadi saya hanya sempat lihat gaunnya nyingkap dan pahanya tampak sedikit, dadaku sudah berdetak kencang.

Aku merebahkan tubuhku di sisinya, sambil mencium tangannya, dengan dada berdetak lebih kencang, karena pengaruh perempuan di sampingku ini. Hampir satu jam aku tidak bisa tidur, menurut perasaanku bu Miska juga belum tidur. Lalu aku pura-pura tidur, tanganku kutimpakan ke arah tubuhnya. Dia diam saja. Karena tidak ada reaksi, kakiku kutimpakan juga pada kakinya. Dadaku mulai berdetak kencang, aku makin mepet pada tubuhnya.

Ketika tanganku membelai tangannyapun dia diam saja. Aku merasa yakin kalau perempuan cantik ini mau saya ajak ‘bermain’. Saya merasakan suasana dingin sangat mendukung kegiatanku malam itu.

Tangan kananku mencoba menyusup dibalik gaunnya, tapi ia menepis dengan pelan.

“Nah ‘tu, kan, apa aku bilang….? Ntar saya ikat tangan kamu…”

Aku diam saja, namun tanganku beralih ke badannya dan tepat pada posisi susunya, namun aku belum berani memegangnya. Aroma wangi semerbak di bagian tengkuknya ketika kucium. Kemudian dia beralih terlentang. Aku nekat mecium pipinya, perempuan ayu itu tetap diam tak bereaksi. Dingin. Karena tiada reaksi, lalu aku menempelkan bibirku pada pipinya, sambil pura-pura tidur.

Walau jantungku berdetak kencang, semalaman tidak ada kejadian yang spektakuler. Setiap kali aku ingin menyusup di balik gaunnya, dia selalu menepisnya. Padahal senjataku kencangnya bukan main, tegak kuat sekali. Jadi hampir semalam senjataku ini tidak ‘mendapat kerjaan’ apapun.Menjelang subuh saya nekat, dia saya keloni, aku peluk erat-erat.Dia menurut saja, tangan kirikumenyusup di bawah lehernya, sementara kaki kananku menyusup di selakangannya.

Kami tiduran miring berhadap-hadapan.

“Dadamu berdetak keras ya Ted.., kenapa sakit ya…?!”
“Enggak, enggak apa-apa”
“Rasanya ada yang bergerak-gerak sejak semalam” katanya tersenyum sambil beranjak menjauh, tapi tangannya kutarik dan kupeluk lagi.

Mungkin yang dimaksud tititku. Memang senjataku ini bergerak-gerak semalaman.

Namun rasanya belum lama kami berpelukan, kemudian dia beranjak ke kamar mandi, saya pikir, buang air kecil ternyata mandi. Apa-apaan lagi perempuan ini? Pagi-pagi buta, dingin lagi. Mandi! Aku merenung dan sedikit kecewa tidak ada cerita menghebohkan yang dapat ditulis disini. Tetapi aku menimbang juga, seandainya tidak berhubungan badan, tidak apa-apa.
 Cerita Ngentot Bercinta Dengan Bu Miska
Pertama dia calon mertuaku, kedua aku diperbolehkan tidur seranjang saja sudah luar biasa, apalagi tadi ada bonus memeluk, walau hanya sebentar. Selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi,

“Kamu mandi sekalian, Ted… ada air hangat…. kok”
“Ya Bu…“ aku hanya menurut saja walau sebenarnya malas. Daripada jadi masalah, aku turuti kemauannya.

Keluar kamar mandi aku sengaja hanya berlilitkan handuk saja, sementara ia sudah mengeringkan rambut dan rapi sisiran

“Segar to” katanya tanpa memalingkan wajahnyadari cermin.
“Ya, segar sekali Bu” jawabku sekenanya.

Tanpa terasa, hari menunjukkan pukul enam kurang seperempat pagi, aku nekat memeluk kembali perempuan ayu itu dari belakang, saya cium tengkuk dan lehernya dengan lembut, tapi penuh nafsu.

Kukecup bibirnya, dia tak bereaksi, tapi tak mengelak dan kulangi lagi. Berciuman berulang-ulang, Bu Miska mulai mengikuti percumbuan ini. Dia mulai mengisap-isap bibirku dan kami saling megisap. Sementara itu tanganku meraba perutnya kemudian ke atas pada susunya di balik gaunnya, menyangga payudaranya dari bawah dan meremas lembut. Bu Miska bereaksi dengan mendesah lembut.

Kemudian aku membalikkan tubuhnya, kini kami berdua berhadap-hadapan dekat sekali bahkan ketat. Pertama aku mencium keningnya, matanya dan kemudian bibir indahnya, aku mengulumnya penuh dengan gairah bergelora. Bu Miska memandangku dengan mata sayu dan menyambut ciuman demi ciuman. Kami saling berciuman dan melumat bibir, lidah kami saling bercengkerama, tangannya merangkul pada bahuku sementara tanganku membelai pinggulnya. Kedua tangannya merangkul pada pinggangku dan aku memeluk tubuhnya supaya semakin ketat pada tubuhku.

Kemudian tanganku menyusup pada roknya, dan meraba pantatnya sambil meremas lembut. Nafasku mulai memburu kejar-mengejar, berarak-arak seirama nafsu yang bergemuruh. Bi Miska mengikuti arus yang sedang mengalir dengan derasnya, dia mulai menikmati permainan ini. Mestinya semalam harus sudah begini, bahkan lebih dari itu.

Dengan amat sangat hati-hati sambil menahan nafas, saya mulai membuka kancing gaunnya, karena semalam, apabila aku berusaha membuka pakaiannya dia menepisnya. Dalam waktu yang tidak lama gaunnya copot, terkulai di lantai. Lalu terlihat tubuhnya yang indah hanya terbalut beha dan cede warna putih cemerlang.

Dadaku kembali bergetar kencang, menghentak-hentak memanas walau di pagi yang dingin. Ia tersenyum manis di dalam pelukanku, aku meraba punggung yang putih nan halus itu. Kembali aku cium sambil melumat lembut bibir indahnya. Kami berciuman ketat bergerak dengan ritme menurut alur nafsu yang sangat melingkupi rasa dan perasaanku.

Bi Miska mendesah lembut ketika bibirku mulai merayap ke lehernya yang jenjang itu. Kondisi kedua payudaranya push up bra style seakan ingin tumpah dari kedua cup behanya. Tanganku bergetaran merayap membuka kait behanya yang dipunggung, terlepaslah penutup payudara dengan itu. Bentuk susunya teramat sangat indah, montok, puntingnya berwarna coklat kemerah-merahan.

Kembali aku merangkul dari belakang, sementara aku memciumi bibirnya yang dipalingkan ke arah wajahku. Berulang kali kedua tanganku meremas lembut susunya sambil memainkan puntingnya. Tangannya menggapai-gapai wajahku yang sibuk menciumi leher dan bibirnya. Ulah ku ini menjadikan ia mendesah lembut.

Kemudian lidahku menyisir wajahnya, lehernya dan susunya. Kami berubah posisi, lalu wanita bertubuh indah itu membiarkan mulut dan lidahku menjelajah punting susunya. Sambil disodorkan pada mulutku, ku dot kiri kanan. Bila aku ngedot yang kanan, maka susunya yang kiri kuremas dan kupilin lembut, demikian juga sebaliknya dan berulang-ulang.

Kedua tanganku mempermainkan payudaranya mulai menyangga lembut dari bawah, kemudian mengurut ke atas sambil meremas. Sangat menggemaskan! Rasanya ingin menelan keduanya bulat-bulat. Sesekali dia menengadahkan wajahnya ke belakang, dengan suara desah sambil merekahkan bibirnya. Tanpa perintah aku lumat penuh nafsu.

Diapun menyambut dengan isapan yang bernafsu dan tubuhnya makin ketat pada tubuhku.Tanpa terasa handuk yang melilit pada tubuhku bagian bawah jatuh, dia memegang-pegang pantatku kemudian tititku yang sudah tegak kaku sekali itu. Rasanya enak, kami menghadap ke kaca cermin, suatu pemandangan indah, excotis sensasi yang hebat. Seorang wanita paruh baya dicumbu dengan lembut oleh pemuda.

Lalu aku teringat kesan pertama, waktu itu perempuan ini, bentuk pinggulnya sangat indah menggetarkan, sekarang kenyataannya, tidak hanya memandang saja, tetapi meraba dan mempermainkan dengan sesuka hati. Meremas pantatnya dan juga susunya yang sangat mempesona itu.

“Ah, Ted… kamu ternyata nakal….” keluhnya lembut nyaris tak terdengar dalam dekapanku.
“Aku suka sama Ibu..” bisikku dekat telinganya sambil memainkannya dengan lidahku.

Karena dia sudah menyentuh tititku, dan mengocok-kocok lembut, maka aku memberanikan diri menarik cedenya ke bawah, tergulung dengan elastiknya melalui kaki-kaki indahnya. Darahku terasa mendidih dan dada bergetar,sementara dia makin merangsek tubuhnya ke arahku, kini kami berdua masih berdiri sudah dalam keadaan telanjang bulat. Kami masih bercumbu saling mencium, saling mengusap dan mendekap, melepas hasrat yang semalam tertahan. Tangannya tetap memegang tititku yang sudah tegak kencang bukan main, rasanya sudah maksimal kencangnya.

Sepertinya dia tidak mau kehilangan barangku yang sudah seperti kayu itu.

“Diemut ya Bu….” bisikku pada telinganya.
“Ya….” katanya, lalu kami berdiri lagi, seraya dia berlutut depanku dan memasukkan tititku ke mulutnya, dikulum-kulum lembut, diisap dan sesekali gregetan dan gemas.

Lidahnya menari-nari dipermukaan kepala titit, nikmatnya luar biasa, seakan saya melayang-layang ke angkasa luas. Kemudian aku terduduk di tepi ranjang dia tetap ngemut habis-habisan. Ah, nikmat sekali!
Aku bergemetaran, aku dorong dia dengan pelan dan kurebahkan di tempat tidur, kami berdua mulai bergumul, berciuman dan meraba, saling mencari celah-celah kenikmatan dengan nafsu.

Lalu setelah beberapa menit, perempuan berambut sebahu ini aku bimbing pelan naik ke tempat tidur kembali. Bu Miskamerebahkan diri, tampak jelas lekuk tubuh putih mulus dalam ketelanjangannya dihadapanku.Menakjubkan pemandangan tubuhnya tanpa busana itu, montok menggairahkan. Struktur antara payudara, perut, pinggul dan paha sangat mempesona.

Dulu aku lihat kecantikan wajahnya, sekarang nampak jelas kecantikan tubuhnya yang sangat menggairahkan. Setelah merebahkan diri, kembali kami berdua saling meraba, bergulat dengan penuh nafsu birahi. Tangannya tidak seperti semalam yang tidak mau merangkul saya, pagi itu dia merangkul dengan kuat pada punggungku, seakan tidak mau lepas dengan aku.

Sementara saya menciumi susunya yang montok dan membenamkan wajahku di antara belahannya. Pinggul yang indah itu aku raba dan ciumi pula mulai dari susu, ke perut lalu pinggulnya. Kalau tadi pertama saya cium, hanya saya yang aktif, kini diapun aktif menciumi aku.

Kami berdua benar-benar telah terbakar oleh nafsu yang membara.

“Ted… kamu ternyata pintar, tapi nakal ya…,
“Ah… ibu, aku ingin belaian Bu Miska, aku ingin menyatu dengan ibu….” rayuku.
“Yah…kita menyatu, menikmati bersama” katanya.

Aku pahami apa yang pernah saya baca dan lihat di film-film, kemudian mempraktikkannya di pagi itu.

Kami makin larut dalam permainan yang memanas, jemariku gemetaran meraba selakangannya berbulu tipis lembut, dia bergelincang. Jemarikuantara ibu jari dan telunjuk memainkan klitorisnya dan sesekali memasukkan ke lorong pinknya yang sudah membasah itu. Dia terlentang sambil membuka kakinya lebar-lebar aku mengangkanginya dengan posisi 69. Klitorisnya kumainkan dengan lidahku, bibirku mengatup pada klitorisnya dan kuisap-isap. Wanita berhidung bagus itu bergelincang hebat sambil merintih-rintih lembut, dan menarik tititku kemudian diemut lagi, diisap-isap juga.

Kedua kakinya yang kayak kaki belalang itu, bergerak-gerak tak beraturan, kadang meregang kadang merapat sampai mejepit kepalaku, adegan lembut ini kami lakukan beberapa saat.

Tiba-tiba kakinya dirapatkan lagi dan sedikit mengejang dengan alunan suaranya:

“Ah…..egh…. egh…aku keluar Ted..” sambil nafas terengah-engah….orgasme!

Tititku dipegang kuat-kuat, saat dia masih mengatur nafasnya, terlentang, aku bergerak mengecup keningnya, kemudian mengambil tisu, lalu kukeringkan kewanitaannya dengan tisu, sampai pada lubang pinknya. Aku lihat celah veginya itu banyak mengeluarkan cairan.

Pagi itu aku bernafsu teramat sangat, kembali aku gesek-gesekan panisku pada perutnya, lalu naik ke dadanya. Saat tiba dibelahan dadanya, susunya dipepetkan hingga penjepit lembut senjataku. Aku gerakkan naik-turun, berirama. Rasanya bukan main enaknya, nikmat sekali, saking enaknya saya merebahkan tubuhku di ranjang, namun dia meraihnya dan mengulum ketat tititku, sepertinya dia gemas, saya bergelincangan bukan main. Bu Miska tetap merangsek, rupanya dia senang aku bergelincangan kayak cacing kepanasan.

Setelah beberapa saat,

“Ted….. masukkan aja…yuk…” ujarnya

Aku menuruti saja, aku beringsut ke bawah, menindih tubuhnya, kedua kakinya ditekuk dan direbahkan di tempat tidur, sehingga tempiknya tampak menganga, merekah bagai bunga mawar. Lalu saya mengarahkan senjataku pada alat kewanitannya itu.Aku menekan dengan pelan, dan tekanan itu tak masuk. Kemudian aku mengarahkan lagi, tetapi tidak berhasil masuk. Akhirnya tangannya memegang tititku dan mengarahkan pada vegynya, lalu kutekan. Astaga enak sekali!

Bersamaan dengan itu dia mendesah dengan manja:

“Ah… Ted, sayang…”

Agak sempit, maklum karena perempuan ini belum pernah melahirkan anak. Saya rasakan setiap millimeter jalannya tititku masuk ke vegynya bu Miska. Kenikmatan yang luar biasa! Naluri lelakiku berjalan, dengan memompa bu Miska, naik-turun, keluar-masuk, yang disambut dengan pinggulnya, naik-turun berlawanan arah denganku.

Saat aku menghujamkan tititku dia mengangkat pinggulnya, menggoyang meliuk-liuk indah. Luar biasa … rasanya enak sekali, baru kali ini aku merasakan, senggama itu, yang nikmat luar biasa ini, seumur-umur. Saat menggenjot itu aku bertumpu pada kedua siku-sikuku sementara tanganku berpegangan pada kedua bahu indahnya dari arah bawah. Kadang-kadang tumpuan tanganku kuluruskan. Dia memandangiku dengan serius di tengah tembakan tititku.

Akupun memandanginya, yang menambah tensi nafsuku, wajahnya mulai nampak merona merah jambu. Ini mungkin pengaruh pompaanku yang memancing emosi nafsunya yang menggelora. Makanya permainan begini disenangi oleh semua orang normal. Aku terus menggejot dengan penuh perasaan dan irama yang indah. Senjataku terasa diisap-isap, rasanya seola-olah melayang-layang di langit. Kedua tangannya dirangkulkan pada punggungku dan kedua kakinya dililitkan pada pahaku.

Adegan aku diatasnya ini hampir berjalan 20 menit, rasanya lelah tapi sungguh membawa gairah. Kadang aku berhenti, hanya menggerakkan pinggulku ala kadarnya, diapun menggerakkan sedikit memutar-mutar lembut pinggulnya.

Gerakan yang sedikit itupun membawa kenikmatan luar biasa.

“Ah… a…ku…. ke..lu..ar lagiiii…” katanya terbata-bata

Aku berhenti sejenak, melihat dia menikmati orgasmenya, tampak wajahnya merona merah jambu.

“Gimana Bu rasanya…?”
“Jangan panggil aku Bu, panggul saja namaku”
“OK, Rif…, Gimana enak ya.. ” kataku mulai menggenjotnya lagi
“Senjatamu besar sekali… ketat rasanya”
“Tapi enak ya…” kataku
“Eh..eh” katanya tersenyum.
“Ini keluarkan di mana?” kataku sambil membelai-belai rambutnya.
“Di dalam saja, Sayang..” katanya

Seperti suara desingan peluru di tengah-tengah kancah peperangan, suara desahnya makin membuat pesona. Desah mendesah itu diiringi suatu desakan dahsyat menekan-nekan relung-relung birahi. Suatu pancaran hebat keluar dari kelelakianku, spermaku menyemprot beberapa kali dengan kekuatan dahsyat, tanpa kendali, membelah dan memenuhi lorong pink milik Miska. Gerakan pinggul Miska makin seru dan membawa efek nikmat teramat sangat.

Kedua tanganku meremas payudaranya, dan…..

“Akh egh….egh….aku keluar Rif sayang…akh…..”
“Aku juga keluar lagi,…. Ted……ah…akh…kita sama-sama keluar… akh….”

Suara-suara itu bersahutan, membahana di pagi yang sejuk, bibirnya merekah kulumat. Betapa hebat permainan ini, betapa nikmatnyaperempuan ini. Nafasku dan nafas Miska lari berkejar-kejaran, saling memburu dan menangkapnya, berarak-araknya mencapai puncak kenikmatan. Kami berciuman berulang kali…Nikmat abizz!Kami benar-benar menyatu, menyatu dalam perasaan, tubuh, bibir dan alat seks, diiring tetesan peluh dari tubuh kami berdua.

Beberapa menit berikutnya aku masih menunggangi perempuan berkulit putih bersih, bodyperfect ini. Diapun mengelus punggungku aku mencium bibirnya dengan lembut dan setelah agak mereda, namun masih menikmati sisa-sisa kenikmatan. Tititku masih menancap pada kewanitaannya, kemudian dengan pelan dia menggerakkan lagi pinggulnya dan dia minta di atas. Di atas dia mulai bergerak lagi, memutar-putar pinggulnya, sambil susunya disodorkan kemulutku, lalu aku emut.

 Beberapa saat kemudian dia mengerang lagi dan bergelenjotan

“Ahhhh….” rupanya dia keluar lagi.

Setelah itu dia benar-benar terkapar di atas tubuhku, kepala direbahkan, nafasnya terengah-engah. Setelah nafasnya mulai berjalan normal dan berkata:

“Kamu hebat Ted, aku puas”
“Aku juga, puas.., terima kasih Rif…” kami berciuman
“Sama-sama. Sudah lima tahun aku pertahankan tidak beginian.. ternyata kau yang mampu menjebol pertahanan itu..Ted…”
“Kamu menyesal Rif…?” kataku dan dijawab dengan gelengan kepala sambil senyum manis.
“Kamu pinter, siapa yang ngajari kamu?”
“Baca dong… dan liat film beginian…” kataku disambut dengan senyum kepuasan.

Memang baru kali ini aku berintim ria dengan perempuan, sampai ke dasar-dasarnya. Walaupun pernah bercumbu dengan Dita, tapi sampai puncak ini baru degan bu Miska.

Selang beberapa menit, dia melepaskan diri, beranjak dari atas ku lalu di sisiku, sambil menghela nafas panjang, nafas kepuasan. Kami terbaring lemas, kayak habis kerja keras saja, dan memandang langit-langit kamar yang menjadi saksi bisu permainan perdanaku bersama Miska. Puas rasanya!

Waktu menunjukkan pukul tujuh, Miska bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri. Berarti kami bermain sampai satu jam lebih. Aku masih terbaring, Miska bersolek berpakaian baju putih dengan model krah hem lelaki, bleser, celana panjang warna abu-abu dan kerudung warna orange. Setelah selesai berdandan, perempuan lincah ini beranjak keluar kamar.

“Kamu tunggu di kamar ya,Sayang….” sambil cium pipiku
“Ya, hati-hati ya…” kataku sambil mencium keningnya

Namun beberapa saat kemudian, dia masuk lagi ke kamar.

“Ada yang tertinggal, Yang?”
“Ada yang terbawa. Spermamu rasanya risih, di cede” katanya berbisik, sambil melucuti celananya dengan cepat.

Dan terakhir cedenya dilempar kearahku sambil melangkah ke kamar mandi. Aku ketawa geli. Kuamati memang terlihat ada cairan kental berbau khas sperma, di selakang cedenya.

Keluar kamar mandi, sambil melap selakangannya dengan tisu, lalu ganti cede, dan memakai celananya kembali, sambil berujar.

“Pasti tadi kamu peras habis-habisan ya tadi…?!” katanya lagi sambil tersenyum

Aku hanya ketawa kecil saja, sambil mengantar sampai di pintu.

Sore harinya (Jumat) Miska mengakhiri pendidikannya sepekan, saya sambut dengan ciuman mesra. Setelah berkemas-kemas barang bawaannya, dia mengajak mandi bersama. Romantis betul perempuan ini. Di kamar mandi kami saling menggosok dan membelai, sempat memasukkan senjataku pada veginya tapi tidak sampai puncak. Di saat itu kami sepakat saling membersihkan rambut bawah masing-masing, sebagai tanda momen yang menyenangkan. Kini selakangan kami berdua bersih tanpa rambut. Tak ayal lagi kami lanjutkan bermain, berpacu dalam birahi yang membara.

“Aku tembak dari belakang Rif…” kataku.

Tanpa berucap dia menungging lalu saya masukkan tititku ke vegynya. Gerakannya biasa, keluar masuk dan berputar-putar. Saya benar-benar mengekploitasi vergynya dengan kenikmatan luar biasa.

Sekitar pukul lima sore kami cek out, janda cantik itu memakai celana jean warna hitam ketat dan blouse warna orange dan kerudung merah.

Satu jam kemudian sampai di kota M dan aku menawarkan untuk menginap di sana.

“Rif, kita singgah lagi di sini, gimana?” kataku.
“Terus pulangnya, kapan?”
“Ya besok pagi”
“Terserahlah kamu , saya nurut aja…” katanya sambil tersenyum penuh arti.

Hari mulai gelap, mobil saya belokkan ke halaman sebuah resort, di lereng perbukitan. Setelah mendaftar di resepsionis, kami masuk kamar dan sebentar lagi keluar untuk menghirup udara segar malam itu. Udara dingin membuat Miska diam dalam pelukanku. Sekitar pukul delapan kami kembali ke kamar.

Keesokanharinya aku terbangun pukul setengah enam, aku lihat Miskayang masih terlelap berbaring disisiku, kembali menggapai-gapai bahuku mengusir dingin.

“Dingin… dingin Sayang..” katanya, kemudian ku rangkul dengan ketat.

Perempuan ini rupanya masih kantuk dan lelah, setelah semalaman kami berdua mengayuh perahu cinta di atas samudera birahi. Berbagai gaya diperkenalkan bu Miska kepadaku semalam, yang sebenarnya aku juga sudah mengerti, walau hanya lihat lewat film biru. Saya tidur terlentang, sementara kakiku kiri menyusup pada selakangan Miska dan perempuan ayu itu memeluk aku, dengan kaki kirinya ditimpakan pada pahaku.

Wajahku menatap langit-langit, pikiranku menerawang ke angkasa. Betapa wanita berusia 36 tahun ini yang beberapa tahun yang lalu dia sudah dewasa dan saya remaja, kini kami saling menikmati. Saya begitu saja bisa mencium, meraba bahkan merasakan tubuhnya secara mendalam. Tanpa terpikirkan sebelumnya.

Sehabis mandi pagi yang sejuk itu kami bersantai di dalam kamar, sambil melihat panorama gunung yang indah. Miska memakai gaun tidur warna putih tipis, memakai cede tanpa beha. Sementara saya memakai kaos singlet putih tanpa cede. Karena Miska meminta saya begitu “Kamu nggak usah pakai cede” katanya. Kami berdua duduk bersanding, bergelanjut, merangkul manja dan bergantian tiduran kalau capai duduk, sepanjang hari, tanpa terasa hari sudah mulai beranjak sore.

“Kemarin malam itu, kamu kok menolak, kenapa?” kataku menunjuk saat malam pertama tidur seranjang.
“Aku takut”
“Takut sama siapa”
“Takut sama kamu”
“Mestinya kan ada dua manfaat. Satu mengajari saya, kedua kamu keenakan”
“Kamu juga keenakan”
“Kita sama-sama” kataku sambil tertawa bersama. Kemudian ia berkata.
“Tapi rasanya pedih, kena rudalmu sejak kemarin…”
“Ya, nanti pelan-pelan saya” kataku sambil mencium keningnya.

Setelah menjelang senja, perempuan berkulit bersih itu berkata:

“Kita main sekali yuk Ted, nanti terus pulang…..” ajak calon mertuaku ini.

Sesampainya di kota S pukul 20.00, bu Miska minta di pangkalan taksi dan naik taksi menuju rumahnya.

Bagai disambar petir disiang bolong, beberapa bulan setelah itu, Miska minta aku nikahi.

“Bagaimana ini terjadi, Rif. Bagaimana dengan Dita?”
“Maksudku, nikahi aku dengan tidak resmi. Kamu tetap menikahi Dita secara resmi kelak. Supaya kita tidak berbuat salah terus dan saya tidak merasa merebut kamu dari Dita”

Dengan memutar pikiran keras, akhirnya di suatu saat saya mengajak Miska ke suatu desa jauh dimana saya pernah KKN saat kuliah dulu, untuk melangsungkan pernikahan di bawah tangan di desa itu dengan Miska, secara diam-diam dan disaksikan oleh beberapa orang di sana.

Di suatu saat saya bertanya pada Miska yang kemudian saya panggil mama:

“Dulu Mama melarang saya pacaran sama Dita, tapi tiba-tiba boleh dan sekarang jadi istriku”
“Sebenarnya aku takut kehilangan kamu. Kalau kamu kawin dengan orang lain, nanti jarang ketemu kamu” katanya singkat.

Hari perkawinanku dengan Dita telah tiba, setelah tamu pulang dan semua family senyap di kamar masing-masing, kami mulai mendekati Dita. Saya membuka gaun tidurnya di dalam kamar pengantin yang telah tertata rapi dan indah dengan nuansa pink, lambang kasih sayang.

Kami mulai bercumbu dengan Dita, dia makin merangsek dan meradang dengan ciuman dahsyat akupun tidak mau kalah. Kami saling pagut dalam bibir tapi tak melukai masing-masih. Kami sama-sama terbakar oleh api asmara yang membara yang tertahan selama pacaran. Pengantin putri yang cantik itu sudah telanjang bulat, sementara dia sibuk membuka pakaianku hingga bugil juga.

Pergumulan dimulai, setelah mempermainkan kletorisnya, dia terengah-engah, nafasnya memburu dengan kencangnya, dan mengejang. Orgasme. Dita tidur terlentang kakinya dibuka lebar dan kedua kakinya ditekuk, selakangannya terlihat basah. Aku duduk dan mengarahkan kepala penisku pada vaginanya, lobang seperti garis membujur itu aku tekan tapi tidak masuk.

Ku tekan lagi, tidak masuk.

“Ah…Mas..Nggak muat” katanya berbisik, ketika aku tekan.
“Coba lagi..” kataku

Kemudian sambil menindih tubuhnya kembali aku tekan lagi, aku minta dia mengarahkan pada miliknya. Dan tangannya memegang tititku dan mengarahkan pada lobangnya. Ku tekan lagi, sekarang masuk sampai kepalanya. Dia mengeluh..

“Ah, sakit Mas”

Aku tekan lagi, dia tambah menjerit keras, sakit katanya.

Saya capai istirahat sebentar sambil merebahkan diri di sampingnya. Kemudian aku ulangi lagi dan masih pada kepalanya saja. Akhirnya aku keluar kamar menuju ruang makan dan minum. Tiba-tiba dari belakang muncul mama Miska keluar kamar dan mencubit pantatku keras sampai sakit.

“Aow. Sabar ya.. Sayang” bisikku sambil mengecup kening mertuaku itu dan dia berlalu masuk kamar lagi.

Kembali aku masuk kamar penganten, Dita tertidur di bawah balutan selimut, tapi masih telanjang bulat. Menit berikutnya aku menghampirinya lagi dan kembali mencumbunya, tititku mulai bergerak-gerak dan tegak lagi. Dita tidur terlentang dan siap membuka kakinyanya, aku mulai menaikinya lagi dan mengarahkan senjataku pada selakangannya. Aku meraba dan mempermainkan klitorisnya, sebentar lagi vaginanya membasah lagi. Lalu aku masukkan kembali, lagi-lagi seperti tadi hanya kepalanya.

Ku tekan lebih keras lagi.

“Ah, akh…” rintihnya

Kali ini bisa masuk separo, Dita tidak merintih lagi. Diam, akupun diam bahkan dia terasa dia sedikit menggerakkan pinggulnya. Kembali aku diam dan kugerakkan pelan-pelan pinggulku. Diapun mengimbangi gerakan kecil tapi masih mengeluh. Malam itu belum bisa masuk, walau darah segar mengalir dari vegynya

Dita. Baru malam kedua saya bisa masuk.

“Gimana masih sakit”
“Enggak, agak enak malah” katanya.

Aku mulai menggenjot pelan dan beberapa menit berikutnya aku mengerang disusul dengan dahsyatnya pancaran sperma yang memenuhi rahim Dita istriku. Dia mencengkeram ketat punggungku.

Nafas kami berdua saling memburu dan melepas kepuasan masing masing. Dita terlentang aku melap selakangannya yang berkelepotan darah segar, darah keperawanannya. Kulap dengan celana dalamnya, kemudian tititku juga yang berkelepotan darah merah kulap dengan cedenya juga. Aku biarkan, cede itu memerah hingga keesokan harinya sampai kering.

Setelah saya resmi memperistri Dita ini, kami bertiga di satu rumah, Mama Miska, Dita dan saya, saling berbagi permainan di tempat tidur antara ibu dan anak angkat, tanpa sepengetahuan Dita tentu saja. Hari-hari berganti bulan, bulan beranjak tahun, kami bertiga menapaki hari-hari indah menggairahkan pada posisi masing-masing.

***

Cerita sex, cerita ngentot, cerita mesum dan cerita dewasa tante, sedarah, spg, daun muda, setengah baya, abg, remaja, pramugari, pembantu, bispak, mahasiswi, pelajar, lesbi dan banyak lagi lainya kategori cerita terbaru  

Related Posts

Cerita Sex Bercinta Dengan Bu Miska
4/ 5
Oleh